Iklan

iklan

Iklan

,

Iklan

Mengapa AS Menyerang Caracas dan Menangkap Presiden Venezuela?

6 Jan 2026, 10:04 WIB Last Updated 2026-01-06T03:04:59Z


TVBERITA NEWS. COM, Caracas – Amerika Serikat melancarkan serangan udara di berbagai wilayah Venezuela pada Jumat malam waktu setempat. Ledakan dahsyat mengguncang ibu kota Caracas menjelang fajar, menandai eskalasi militer paling serius dalam hubungan Washington–Caracas selama beberapa dekade terakhir.

Tak lama setelah serangan itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan Amerika telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dan menerbangkan keduanya keluar dari negara tersebut.

Serangan mendadak dan penangkapan presiden yang masih menjabat itu dinilai sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin.

Operasi ini terjadi setelah berbulan-bulan kampanye tekanan intensif AS terhadap Venezuela. Sejak September, Angkatan Laut AS dilaporkan telah mengerahkan armada besar di lepas pantai Venezuela, melakukan serangan udara terhadap kapal-kapal yang dituduh terlibat perdagangan narkoba, serta menyita kapal tanker minyak milik Venezuela.

Kelompok hak asasi manusia mencatat sedikitnya 110 orang tewas dalam serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Sejumlah organisasi menilai tindakan itu berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Pejabat Venezuela menuding Amerika Serikat berupaya menguasai cadangan minyak negaranya, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

Pemboman dan penangkapan Maduro dinilai sebagai eskalasi drastis dari kebijakan tekanan AS. Hingga kini, masa depan pemerintahan Venezuela masih diliputi ketidakpastian.

Langkah ini juga disebut sejalan dengan doktrin baru Trump, yang membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer AS untuk mengamankan akses terhadap energi dan sumber daya mineral di berbagai wilayah strategis.

Nicolas Maduro telah menjabat sebagai Presiden Venezuela sejak 2013. Mantan sopir bus itu naik ke panggung politik nasional di bawah kepemimpinan Hugo Chávez dan pernah menjabat sebagai menteri luar negeri sebelum akhirnya menjadi presiden.

Pemerintahan Maduro kerap dituding bersifat otoriter. PBB pada 2019 memperkirakan lebih dari 20 ribu warga Venezuela tewas akibat eksekusi di luar hukum. Lembaga negara, termasuk peradilan, dinilai mengalami kemunduran serius di bawah kepemimpinannya.

Hubungan dengan Amerika Serikat juga memburuk drastis. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali menyerukan penggulingan Maduro dan menudingnya terlibat jaringan narkoba internasional, meski klaim tersebut dinilai sejumlah ahli tidak didukung bukti kuat.

Meski retorika meningkat selama berbulan-bulan, penangkapan Maduro pada Sabtu pagi disebut terjadi tanpa peringatan. Otoritas Venezuela dilaporkan terkejut oleh operasi militer tersebut.

Menteri Pertahanan Venezuela menyatakan perlawanan akan terus berlanjut. Ia menyerukan persatuan nasional melawan apa yang disebutnya sebagai invasi asing dan menyebut situasi ini sebagai perjuangan untuk kebebasan.

Meski Maduro diklaim telah ditangkap, struktur pemerintahan dan militer Venezuela dilaporkan masih utuh. Belum jelas apakah serangan ini merupakan awal konflik berkepanjangan atau operasi militer terbatas.

Sejumlah analis memperingatkan potensi kekacauan jangka panjang. Latihan perang AS sebelumnya memprediksi skenario penggulingan kepemimpinan Venezuela dapat memicu instabilitas, gelombang pengungsi besar-besaran, dan perebutan kekuasaan antar faksi bersenjata.

“Akan terjadi kekacauan berkepanjangan tanpa jalan keluar yang jelas,” kata pakar Amerika Latin Douglas Farah.***

Sumber: Guardian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PASLON 01

PASLON 01

PASLON 02